top of page
Search

Sedap Malam 2 (Khajat Purnomo)

Writer: Reka Tara
Reka Tara
Aug 8, 2022
4 min read

Updated: Aug 22, 2022


Sebelum saya mengatakan beberapa hal yang mungkin sekali tidak ada arti dan signifikansinya bagi siapa saja yang mendengarkan, ijinkan saya memulai dengan sebuah kalimat yang sering menempel di gerbang-gerbang batas kota, di tembok-tembok gedung, di lembaran proposal-proposal dinas pariwisata, di iklan-iklan, disebut-sebut dalam pidato-pidato, di forum-forum diskusi. The soul of Java.


Sebuah kalimat yang selalu ada, tapi di saat yang bersamaan juga lebih terasa ketidakhadirannya.


Atau sebuah kalimat yang belum selesai dirumuskan arti dan signifikansinya, minimal bagi satu kata yang selalu ada di depannya, Wonosobo.


Maaf, maksud saya bukan satu kata, tetapi satu kota.


Sepertinya kata itu juga belum tepat-tepat amat untuk mendeskripsikan sebuah wilayah yang berada di titik pusat Pulau Jawa dengan segala keindahan, ke-potensial-an, keruwetan, dan ke-wagu-annya.


Yah, tapi paling tidak maksud saya ya begitu itu lah kira-kira. Malam ini kita tidak punya kewajiban apa-apa, kecuali untuk berbahagia, atau paling tidak menikmati apapun yang terjadi pada malam ini. Ya gimana, kan kira-kira memang begitu ya tujuannya, sampai-sampai dibikinin acara kaya gini segala. Kalo enggak, terus buat apa?!


Karena malam ini secara istimewa kita juga ditemani oleh teman-teman Olski, dari Jogja dalam rangka turing release single terbarunya, juga tadi telah dibuka dengan merdu oleh salah satu solois Wonosobo, Kenlacessa. Gigs pertama juga ada Sitokotis dan Cacha, ada Just Dinadocco, yang mereka semua adalah seniman-seniman kita yang sedang berkarya. Karya dan semangat mereka pula yang menjadi semangat kita bersama untuk mempertemukan karya mereka dengan telinga pendengar melalui salah satunya adalah Gigs akhir pekan ini. Sekalipun lagu-lagu mereka tentu saja sudah bisa didengarkan di berbagai media digital, tetapi ruang-ruang panggung yang memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung tetap dibutuhkan.


Jadi setelah kalimat pembuka yang sengaja saya panjang-panjangkan supaya tidak terlalu kelihatan kalau saya sebenarnya tidak tahu mau ngomong apa di hadapan kalian semua.


Tapi mau bagaimanapun juga, kita tidak boleh putus asa dan tidak akan putus asa. Sekalipun tuhan telah memilih jalan yang hendak dilaluinya, kita masih bisa babat jalan baru, walaupun katanya tidak ada satupun yang bukan kepunyaan-Nya (termasuk jalan-jalan). Atau minimal membuka-buka lagi jalan lama yang sudah usang, rusak, penuh lubang, atau bahkan belum diaspal, baru sempat dialasi batu-batu. Sehingga perjalanan di atasnya penuh dengan jogetan-jogetan, liukan-liukan, di sepanjang alunan lekukan-lekukan jalan.


Lagipula setelah jenuh dengan genderuwo atau raksasa tak kasat mata bernama Corona selama hampir tiga tahun, akhir-akhir ini Tuhan lebih senang menghabiskan waktunya bersama dengan orang-orang yang menempuh jalan-jalan yang juga kurang lebih selama tiga tahun terakhir harus berjalan sangat pelan-pelan, atau malah jalan di tempat, bahkan mungkin beberapa dilarang berjalan sama sekali.


Tidak seperti saya misalnya yang setiap berangkat dan pulang menyusuri jalan yang di sepanjang jalan diliputi oleh liukan-liukan dan lipatan-lipatan kesunyian. Jalan-jalan itu biasa disebut orang dengan beberapa nama, misalnya saja nama yang belakangan ngetrend "jalan ekonomi kreatif", atau nama yang agak usang "jalan kesenian", atau nama-nama yang jarang terdengar, seperti jalan Tukang Sound, jalan tukang lampu, jalan tukang panggung, jalan tukang rijing, jalan event organizer, jalan gigs, dan masih banyak jalan-jalan yang lain yang jika dirunut semua, acara ini berganti tajuk menjadi sensus nama jalan, bukan gigs akhir pekan.

Saya harap kalimat terakhir barusan tidak terlalu banyak mengandung konsentrasi kelucuan, karena sekali lagi ini bukan ajang kelucuan, tetapi ini adalah Gigs akhir pekan.


Bukan berarti di gigs akhir pekan tidak boleh terlihat lucu, mencoba melucu, atau melakukan hal tertentu supaya dianggap lucu, sama sekali tidak. Gigs akhir pekan tidak anti terhadap kelucuan, apalagi sampai melarang kelucuan untuk ada.

Memangnya ada urgensi apa, ada kegentingan macam apa, atau ada tuduhan apa sampai harus mendeklarasikan diri, mengumum-umukan diri bahwa kita tidak anti kelucuan? Dan lagipula masalah kelucuan kan hanya soal yang remeh temeh, tidak mempengaruhi jalannya kepentingan umum, kondisi sosial, psikologis masyarakat, apalagi memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi rakyat.

Lha rak semakin ngaco to? Wong ini acara gigs-gigs-an, musik-musikan, dan bersenang-senang kok tekan tekane pertumbuhan ekonomi rakyat.

Lho ya yang lebih ngaco berarti adalah penyelenggara acara gigs akhir pekan ini. Lha wong genah acara musik-musikan kok pake orasi kebudayaan, pake panggung opini, pakek sedap malam segala? Kan rodo gendheng itu jane.


Apalagi ya, kita ini kan belum punya budayawan, atau profesor budaya, atau minimal pegiat budaya. Lha kok berani bikin wadah atau saluran komunikasinya? Dan satu lagi emang apa hubungannya gigs dengan kebudayaan?


Lha ini, ini adalah salah satu kesesatan berpikir, kekhilafan penyimpulan, kesombongan intelektual, dan mungkin juga kesempitan cakrawala pergaulan.


Pertama, emangnya yang bicara di panggung sedap malam semacam ini harus orang-orang dengan pangkat budayawan atau gelar profesor budaya? Tidak, siapapun boleh. Wong saya yang bicara ngawur saja bisa, apalagi yang bicaranya tidak ngawur. Walaupun sebenarnya ngawur-ngawur sedikit juga tidak apa apa, syukur-syukur tidak ngawur, ya minimal tidak sengawur saya lah.


Kedua, kalau kita melihat seseorang itu budayawan atau bukan itu berdasarkan apa? Apakah ada standar mutu tertentu, atau ada lembaga yang menangani uji kelayakan seseorang pantas atau tidak digelari sebagai budayawan?. Jadi secara akademik metodologis gelar itu juga kurang bisa diukur dan dipertanggungjawabkan. Tetapi dari sudut yang lain, mata pandang yang lain tentu belum tentu seperti itu. Dan yang lebih penting kita itu tidak kekurangan orang-orang yang memiliki gagasan, memiliki pandangan, atau uraian dan kritikan mengenai apa saja.


Ketiga, mengenai hubungan antara gigs dengan kebudayaan, sebaiknya tidak perlu kita pertanyakan lagi. Karena sudah sangat jelas, sudah sangat gamblang, sudah clear, sudah fix, bahwa itu tidak penting. Maksud tidak penting mau dipertanyakan atau dibicarakan lagi. Karena yang penting adalah untuk dialami dan dirasakan.


Supaya tidak terlalu berkepanjangan kengawuran ini, baiknya saya akhiri di sini. Selamat malam, dan selamat ber- gigs akhir pekan.



 
 
 

Comments


bottom of page