top of page

GIGS AKHIR PEKAN & URUN DANA

Logo Gigs Akhir Pekan.png

     Lahir dari gagasan serta nafas kolaboratif, secara singkat Gigs Akhir Pekan adalah panggung pertunjukan musik yang hadir untuk menaungi kejenuhan publik atas macetnya eksplorasi bentuk dan begitu homogennya nama atau opsi performatif.

 

     Seperti yang jamak diketahui, problem industri hiburan juga berbagai hal yang berkaitan dengan ruang lingkup kerja kreatif di daerah, seperti di Wonosobo, biasanya terkesan politis dan elitis. Alih-alih bertukar relasi, konsesi yang terjadi hanya sebatas monopoli. Dinamika proses yang tertutup dan seolah tidak merangkul segala lini juga membuat musisi sering kali merasa kesulitan untuk tumbuh dan berkembang menapaki awal karir mereka. Kebutuhan publik akan konsumsi hiburan yang variatif adalah pula kesempatan bagi medium-medium baru untuk mengakomodir hal tersebut. Selaras dengan persoalan tadi, maka terbuka pula kesempatan bagi seniman—dalam hal ini musisi—untuk mengeksplorasi lagi ruang yang mungkin ada. Maka, Rekatara sebagai suatu platform yang berpihak pada kepentingan bersama, berusaha menjembatani keinginan publik dan pekerja seni—dalam hal ini musisi—lewat produk Gigs Akhir Pekan.

 

     Untuk memuluskan agenda serta wacana yang adiluhung serta sarat akan nilai ini, penting untuk menyadari bahwa Rekatara sangat terbuka akan kontribusi dan partisipasi dari berbagai pihak. Memiliki kultur kebersamaan dan transparansi, Rekatara berusaha tidak mengulang kesalahan medium-medium pendahulunya. Dengan kata lain, Rekatara menawarkan kepada khalayak suatu perencanaan matang berkaitan dengan konsep, kebutuhan pendanaan, tujuan pragmatis dan jangka Panjang serta detail-detail lain mengenai  kegiatan--yang dalam hal ini adalah pertunjukan/panggung musik—agar bisa dimiliki, diakses, dikritisi dan dipikirkan bersama.

 

Mengenai rincian dan uraian alasan yang lebih menyeluruh, akan dipaparkan pada paragraf di bawah ini.

URUN DANA: ANTARA DAYA IMAJINATIF PUBLIK DAN  REGENERASI MUSISI 

ASUMSI IMAJINASI 

Imajinasi berada dalam titik mula sebuah proses atau rangkaian  panjang perjalanan untuk melakukan atau membuat sesuatu. Dengan  kata lain, imajinasi merupakan sebuah persiapan yang perlu  dibuat sebelum seseorang melakukan sesuatu atau bertindak nyata  berdasarkan apa yang sudah diimajinasikannya. Ibarat kunci,  imajinasi adalah kunci yang dapat membuka pintu ke alam realitas  nyata. Dalam dunia imajinasi, seseorang bebas menciptakan apa  saja sesuai dengan kreativitasnya. Tidak ada batasan-batasan  yang dapat melarangnya.

 

Dunia imajinasi sarat akan kebebasan diri yang autentik. Dalam  titik tertentu, hal ini tentu sama sekali berbeda dengan dunia  realita. Di dalam dunia realita, seseorang mungkin akan dibatasi  oleh sekat-sekat yang ada, misalnya nilai sosial masyarakat,  nilai agama, dan sebagainya. Batasan-batasan tersebut mungkin  membuat seseorang tidak mampu dan tidak mau mengekspresikan  dirinya secara bebas. Di dalam dunia imajinasi, tidak demikian  adanya. Seseorang mampu mengeksplorasi dirinya dan menunjukkan  autentisitas refleksinya tanpa takut dibatasi dan dihakimi oleh  siapapun. 

Tapi, bagaimana jika kita mencoba mengabaikan realitas untuk  beberapa saat? Lalu mulai membayangkan sesuatu yang paling tidak  mungkin. Jika dirasa kesulitan, mari coba membayangkan sesuatu  yang lebih sederhana, seperti makan es krim di kutub selatan.  Jika dirasa absurd, maka coba bayangkan jika kita bisa  menciptakan suatu pertunjukan/panggung musik kolektif bagi  musisi domestik, musisi kurang modal yang sok-sokan indie  menampilkan karya autentik mereka tanpa pusing memikirkan  penonton dan pendanaan karena sebagian besar penonton atau orang  lain di luar sana yang bahkan tidak mengenal satu sama lain  merasa memiliki acara panggung musik tersebut. Saking merasa 

memilikinya, semua orang bahkan bisa berkontribusi untuk saling  patungan mengurus pendanaan, mengkritisi konsep yang ada atau  bahkan ikut merekomendasikan musisi juga melakukan kurasi.  Terkesan utopis ya? Tapi itu yang sedang kita cari bukan?

DHS01838.JPG
DHS01819.JPG
_DSF3368.JPG

KEBARUAN BAGI YANG MENCARI

Bakat alam, rasa percaya diri, kerja keras dan sensitivitas  terhadap seni, khususnya musik, tidak lantas membuat seseorang  menjadi musisi yang terkenal. Identitas dan kemampuan personal  tidak akan pernah cukup. Jika berbicara tentang musik, kita  mau tidak mau akan membahas pula industri di dalamnya. Membicarakan nilai komersialnya, membicarakan beban yang harus ditanggung untuk proses penciptaan suatu karya. Lebih jauh  lagi membicarakan budaya dan ekosistem yang ada di dalamnya.  Bagaimana industri musik dapat meningkatkan kesejahteraan  hidup para senimannya dan mengembangkan ekosistem bisnisnya  dengan baik.

Di kota-kota kecil seperti Wonosobo, bakat bermusik dan  kemampuan luar biasa pemberian tuhan bisa tumbuh subur dan  meniti ke satu-dua orang. Mereka beruntung diberi modal dari  sang pencipta untuk digunakan dan diolah sebaik-baiknya.  Tambah beruntung lagi jika mereka terlahir dari keluarga yang  supportive secara mental dan ekonomi, sebab bisa semakin fokus  hanya pada eksplorasi pengkaryaan. Setelah dirasa cukup karena  kota kecil tidak memberi sebanyak yang diminta, akhirnya  memutuskan mengadu nasib ke luar kota, seperti Jakarta, dengan  membawa sekoper lengkap kapasitas bermusik dan demo/materi  karyanya. Kapal berlayar dan peruntungan diharap ada.

 

Orang-orang yang pergi karena kecewa atau tidak percaya  bukanlah orang yang perlu kita salahkan. Toh, apa yang bisa  kita janjikan untuk kebaikan dan harapan yang mungkin telah  mereka pupukkan sejak lama? Kita tidak pernah tahu seberapa  besar pengharapan orang-orang yang pergi di masa lalu atau  sebegitu menyakitkannya rasa kecewa yang mereka rasakan karena  tidak bisa berbuat banyak untuk keberlangsungan bakat yang  sudah mereka miliki.

Kita mesti mengakui kapasitas industri musik di kota ini  sebagai pendukung keberlangsungan nasib musisi masih belum  memadai. Katakanlah ada seseorang dengan bakat dan karya yang potensial baik dari segi estetika maupun komersial sehingga ia  punya keinginan pula untuk menjadi musisi yang bisa dikenal  banyak orang. Keinginan itu bertambah lagi, ia berharap  karyanya didengar dan diapresiasi banyak orang, diputar di  kedai-kedai kopi, radio, bahkan upacara pemakaman orang lain.

Maka orang ini perlu bergerak. Ia mulai mencari medium untuk  memperkenalkan karya dan kemampuannya sambil sesekali membuat  konten di akun sosial medianya yang pengikutnya tidak seberapa  besar itu. Satu dua panggung berhasil dia dapatkan, teman temannya mulai membicarakan karya yang dia buat dan pada titik  yang luar biasa juga mulai menyematkan gelar ‘musisi’ setiap  kali bertegur sapa dengannya. Beberapa musisi senior memendam  hasrat untuk bertukar pikiran atau melakukan kolaborasi  dengannya tapi mengurungkan niat mereka setelah menyadari  bahwa sejarah panjang pahit-manis pengalaman menjadi musisi  yang telah mereka lewati adalah sebuah gengsi dan harga diri yang sudah terlaminating. Ditambah kenyataan bahwa mereka  masih belum bisa menerima orang baru atau orang asing yang  bukan dari lingkungan mereka. Orang dengan kapasitas dan  kemampuan bermusik luar biasa itu tentu tidak tahu isi kepala  seniornya yang lebih mirip teks Pancasila. Lagi pula,  persoalan tersebut tidak memengaruhi produktivitasnya dalam  berkarya dan membuat materi baru. Postingannya di sosial media  juga mulai mendapatkan komentar dan dukungan dari teman-teman  lama yang sebelumnya sudah melupakannya atau bahkan  menganggapnya tidak ada. Lantas, apakah ia sudah berhasil  menjadi musisi besar dan terkenal? 

Membaca keadaan seperti ini, kita lantas bertanya: apa yang  salah dari bertaruh untuk tetap tinggal di kota kecil dengan  harapan, suatu saat pada waktu yang entah, bisa menjadi  seniman/musisi besar? Apakah berharap pada kota ini dengan ekosistem bermusik yang belum terintegrasi secara menyeluruh adalah sebuah kebodohan lain? Atau sejak awal, memang tidak  ada kesempatan bagi seseorang untuk bisa menjadi besar dan dikenal seperti orang-orang mengenal nama-nama musisi dari  Malang, Jogja, Jakarta, atau kota lainnya karena bentuk  dukungan, amunisi finansial, jangkauan promosi media serta  akses dalam bentuk medium seperti panggung terlampau jauh  berbeda? Apakah kota ini tidak punya alasan yang menjanjikan  untuk menahan seseorang agar tidak pergi? Atau harapan sudah tidak punya tempat lagi? 

Dengan begitu personal, rasanya harapan tidak bisa disalahkan.  Sekalipun ia bisa begitu menakutkan atau bahkan melukai. Tapi  harapan adalah pula alasan bagi seseorang merasa mampu  menghidupi ‘hidup’ mereka sendiri. Harapan itu pula yang  membuat satu-dua orang tetap memilih tinggal dan bertahan menyiasati hari demi hari yang serba tanda tanya. Harapan  adalah bentuk lain imajinasi aktif. Sesuatu yang mengambang dan sulit tergapai tapi berusaha mencari jalan keluarnya untuk  mencapai realitas. Harapan yang serupa bisa mempertemukan  banyak orang. Mengelabuhi kekecewaan jadi daya hidup. Harapan  pula yang membuka ruang bagi kemungkinan lahirnya kebaruan. Sebuah upaya yang membuat kita jatuh berkali-kali, tapi selalu  bangkit dan berdiri lagi.

saweria rekatara.png

“untuk jadi pahlawan kamu ga harus bisa terbang tinggi, mengeluarkan laser lewat bola mata, berlari melampaui kecepatan suara atau membasmi monster jahat. untuk jadi pahlawan kamu cuma perlu kepekaan, sedikit empati dan sebentuk tindakan langsung. selebihnya adalah nafas kolektif. jadilah pahlawan dengan berkontribusi dalam urun dana Gigs Akhir Pekan. dengan cara itu, kamu bisa menjaga salah satu ekosistem bermusik di kota ini tetap bertahan dan hidup."

---rekatara---

bottom of page