Ekosistem Kreatif atau Ekosistem Takhayul : Sebuah Pembacaan Mengenai Ada (Egi Heryanto)
Updated: Aug 22, 2022

Setiap kali suatu peristiwa kebudayaan tercipta dan 'mengada' ia seharusnya memang tidak pernah bisa dilepaskan dari satu pertanyaan: seperti apa mulanya ia bisa hadir dan dimaknai. Jika meminjam Heidegger, jawaban yang akan didapat tentu cuma jadi sebuah faktisitas. keterlemparan yang begitu saja. bahwa peristiwa kebudayaan itu adalah begini-begitu secara tiba-tiba ada, karena kita juga tiba-tiba ada, juga karena bumi tempat kita tinggal dan seluruh konstelasi antar bintang di alam semesta itu juga tiba-tiba ada. Heidegger mungkin telah mengajak kita untuk menjalani hidup secara otentik (mendengar dan mengikuti panggilan dari dalam diri) tapi ia tidak bisa memuaskan hasrat kita untuk mencari kedalaman itu, mungkin ia juga tidak peduli pada berbagai dinamika yang menghadirkan sesuatu pada kesementaraan yang begitu panjang ini. Oleh sebab itu, mari kita tinggalkan sesaat pemikiran Heidegger itu.
Jika masih merujuk pada pertanyaan mengenai awal mula, suatu peristiwa kebudayaan tentu tidak bisa terlepas dari hubungan dan peran berbagai subjek pada ruang dan waktu. Sederhananya, perlu adanya sebuah ekosistem yang tidak hanya mendukung terciptanya produk-produk kebudayaan tetapi juga ekosistem yang memungkinkan terjadinya relasi tidak terbatas antar subjek. Subjek di sini bisa diartikan sebagai seseorang secara personal, kelompok kolektif, dinas pendidikan, Ormas dan aparatur negara. Dalam kerja kebudayaan yang lebih spesifik berkaitan dengan seni, kita sering mendengar istilah ekosistem kreatif dipakai untuk menjabarkan ruang dengan subjek yang sehat dan mendukung bagi proses berpikir-memproduksi suatu karya. Tentu tanpa mengesampingkan konteks ruang berkaitan dengan medan konflik di mana subjek itu hidup dan tinggal. Persoalan kota tentu berbeda dengan persoalan daerah. Persoalan masyarakat urban jelas berbeda dengan persoalan masyarakat desa. Infrastruktur, akses, kualitas sumber daya, mekanisme politik, pola pikir, juga 'gangguan-gangguan' lain dalam bentuk norma, dogma atau orientasi nilai yang lebih kompleks.
Kita tahu beberapa tahun belakangan ini banyak ruang publik dalam bentuk kedai kopi hadir di kota ini. Disebabkan pandemi, banyak mahasiswa perantau pulang ke kampung halaman. Banyak obrolan dan omong kosong yang muncul dari setiap pertemuan terakomodir-terfasilitasi oleh kedai-kedai kopi itu. Beberapa obrolan dan diskusi jadi sesuatu yang abstrak. Semacam perenungan eksistensial yang sifatnya seringkali lebih personal soal bayangan hari esok, nasib atau jodoh. Beberapa sisanya jadi bentuk yang lebih konkret: mempertemukan keinginan berbagai orang dengan visi yang serupa, menjembatani mimpi seseorang dengan membantu apa yang dirasa bisa. Kedai kopi mungkin cuma satu medium kecil bagi bertemunya subjek dengan subjek lain di kota ini. Tapi ia tetap sebuah ruang yang memunculkan kemungkinan bagi terciptanya suatu ekosistem kreatif.
Pada rangkaian acara 'gigs akhir pekan' malam ini, kita bisa dengan mudah menebak atau berkata kalau ada ekosistem kreatif yang berperan besar sehingga kegiatan semacam ini bisa tercipta. Proses dan dinamikanya tentu lebih panjang dan berbelit dari apa yang disajikan di hadapan semua yang hadir malam ini. Beberapa dari kita mungkin sekadar tahu bahwa acara malam ini berkaitan dengan rangkaian produksi web series beberapa waktu lalu, bahwa launching album sitokotis malam ini adalah ost/soundtrack dari web series itu, bahwa Dinadoco juga adalah salah satu talent dalam web series itu. Kedai kopi ini juga jadi setting tempat di web series itu. Kita tidak akan bicara soal jumlah penonton web series itu yang cuma menyentuh angka 1000an lebih di empat episode awal saja. Selanjutnya orang mungkin bosan dan tidak tergugah, atau kalau mau main aman ya kita bisa menyalahkan persoalan publikasi yang kurang optimal dan massif. Atau jujur saja naskahnya jelek. Ditambah lagi talent-talentnya masih belum fasih berlogat jakartanisme secara natural. Kebutuhan untuk tidak berdialog secara 'medhog' kan penting untuk eksposur. Kita juga tidak akan bicara soal album Sitokotis dan lagu-lagu di dalamnya yang dari penamaan judul susah sekali buat dihafalkan walau maksud dan tujuan si pembuat karya adalah untuk meletakkannya dalam satu tema tertentu. Tapi toh orang-orang yang sedikit mendengar karyanya masih banyak juga yang terbolak-balik menyebutkan judul lagunya. Selain itu, kita tidak akan mempersoalkan juga kalau si pembuat karya mengambil sikap dan posisi yang jelas dalam beberapa liriknya (pikirannya) untuk berusaha melampaui sang Pencipta. Terlepas dari semua itu, pertanyaan mengenai awal mula tentu sudah bisa terjawab sedikit. Yang belum adalah bagaimana ia bisa hadir dan dimaknai.
Bagi Baudrillard, penyampaian makna (signification) dan makna (meaning) hanya dapat dipahami dengan bagaimana kata-kata atau tanda saling berhubungan. Bahwa anjing adalah anjing karena ia bukan kucing, bukan pohon, atau bukan pula kekasihmu. Kita tidak sedang berada dalam situasi mendobrak suatu keadaan agar ekosistem kreatif ini bisa dimaknai secara superior dan malah tercerabut relasinya dari detail-detail kecil. Minimal ia punya makna sendiri dalam masing-masing diri kita. Entah sebagai anjing, sebagai pengharapan, atau sebagai ambisi yang memabukkan. Minimal ia tidak berjarak jauh dari problem yang dihadapi kebanyakan orang di ruangan ini. Makna itu tidak harus memberi penyelesaian pada apa-apa yang membuat kita kesulitan atau mengisi penuh sesuatu yang selalu membuat kita merasa kosong. Karena ekosistem kreatif yang tidak berangkat dari detail-detail kecil di sekitarnya cuma jadi buah tangan yang mengambang. Karena ekosistem kreatif yang terlalu dominan cuma jadi ruang sekap, kemacetan, segala sesuatu yang meneror juga menyeramkan. Dan kita tahu, kebanyakan hal yang menyeramkan erat kaitannya dengan takhayul.
Sebelum mengakhiri sedap malam ini, izinkan saya membacakan salah satu catatan milik seseorang:
di hadapan matahari pada akhirnya kita tahu, icarus bukanlah apa-apa.
harapan bisa jadi sayap-sayap yang meleleh
(untuk tak menyebutnya pesimistik)
dan kita kehilangan kendali buat bangkit lagi.
barangkali yang megah dari sebuah pelarian
cuma sepenggal cara bersikap terhadap keangkuhan?
untuk menerima bahwa kejatuhan itu nyata
atau untuk tidak memberi perlawanan pada segala sesuatu yang menunggu di bawah sana?
tapi di lain cerita,
icarus tak pernah punya sayap.
ia hanya pergi dan mengayuh sampan,
tak menoleh
mungkin juga tak kembali.
kita tak pernah tahu.
Seperti kata Heidegger, menjadi sepenuhnya ada barangkali hanya bisa dimaknai setelah ketiadaan dimiliki. Kita tak pernah tahu.
Maka, apakah kita perlu meledakkan makna? Atau menggantinya jadi ekosistem takhayul?
Atau sekalipun Tuhan cuma bersama orang-orang kreatif, biarlah kita menempuh jalan sunyi saja. Terima kasih.



Comments