Ngumpul (Agus Wepe)

Namamu Wonosobo. Rumahmu, ya tubuhmu. Sejak dulu sudah begitu. Hidup kita, tuna dan punya, heboh dan biasa saja, sudah berjalan seperti itu sejak dulu. Sumpah serapah, ada. Kebanggaan, apa lagi, meskipun entah apa yang akan dipersembahkan ke haribaan rasa bangga itu. Mungkin karena kita merasa, meskipun dengan wujud kita masing-masing yang beraneka macam ini, wangun ora wangun, kita punya kesamaan ciri logat, adat-istiadat, pandangan dunia, atau apa pun itu.
Kesamaan identitas seringkali jadi mata uang dalam pergaulan antarindividu. Di sebuah kota yang jauh dari rumah, selalu ada kesenangan tersendiri—meskipun hanya sekian persen—jika bertemu dengan kawan seperantauan. Rasanya seperti takut malam-malam ke sungai sendirian, kemudian ada kawan yang bersedia bangun buat menemani. Ingat, di sini, Bung, kali adalah kamar kecil, kamar kecil adalah kali. Kita menyokong aliran kehidupan di sepanjang Kali Serayu hingga Pantai Teluk Penyu di Cilacap sana. Ia berangkat dari sebuah kamar kecil, di sini. Dari kamar kecil inilah perlahan kita belajar, bahwa siklus hidup adalah serupa peternakan ikan lele.
Kamar kecil itu berhulu di sebuah rumah yang juga kecil. Kata BPS, ada 900 jiwa tinggal di setiap kilometer perseginya; tidak seramai Solo (11.360), pun tidak sesepi Blora (490). Yang jelas, Wonosobo punya hampir 900.000 kepala, baik warlok maupun pendatang, yang mayoritasnya akan berkumpul di satu titik setiap ada perayaan Hari Jadi Kabupaten. Saya ingat, setelah dua tahun tidak ada keramaian karena pandemi, ada satu hari di tahun 2022 di mana kampung saya benar-benar lengang. Dilanda wabah kejenuhan, orang-orang mengungsi ke jalanan area kota, lantas berebut kue ulang tahun di tengah Alun-alun.
Kapan rumah kecil ini berdiri? Tanggal berapa? Jam berapa tepatnya? Menit dan detik keberapa?
Titimangsa akan selalu jadi hal yang seksi untuk dicari, diperkirakan, kemudian dirumuskan. Pokoknya adalah tanggal dan judul, bonusnya adalah pertanyaan: bagaimana rumah ini didirikan? Apakah seperti membangun istana pasir sekali duduk dengan ember kecil dan sedikit air, atau memakai tumbal manusia yang konon kerangkanya masih tertanam di pilar Pendopo Kabupaten? Pada akhirnya, ketika membicarakan tentang satu simbol, kisah-kisah kecil perjalanan akan dianggap sebagai ornamen penghias tugu peringatan.
Saya sadar betul, bahwa saat ini (akhir September) bukanlah saat yang tepat untuk memperbincangkan masalah identitas kota tempat tinggal. Ada banyak isu yang lebih urgen seperti naiknya harga Pertalite, konversi kompor gas ke kompor listrik, atau tentang pacar baru Johnny Depp yang baru di-update 20 jam yang lalu. Namun seringkali, muaranya adalah sebuah wacana dasar dalam kehidupan manusia satu dengan yang lain: ngapain yuk? Kalau sepakat, kita berangkat. Tidak sepakat, ya tidak ngapa-ngapain. Intinya adalah mutual consent, dan mutualisme itu masih satu topik lah dengan isu teman sepenanggungan di atas. Semakin banyak yang sepakat, berarti hal itu semakin penting. Siji maning mangkat.
Ya, membicarakan Wonosobo tak ubahnya seperti berbicara tentang segala yang bersifat komunal. Bertumbuhan berbagai komunitas, mulai dari komunitas pejalan kaki di Alun-alun (Jakilun) sampai dengan komunitas diaspora Wonosobo di Ibukota. Padahal pernah, pada suatu masa, tempat ini dipenuhi dengan hutan (wana); basah, dingin, banyak kemin, dan rawan membikin masuk angin. Siapa mau datang? Ada. Bisa jadi penjelajah, penjajah, pendakwah, gerilyawan Diponegoro, atau guru-guru Inpres yang didatangkan dari luar kota pada masa Orde Baru. Satu persatu orang datang dan mau-tidak-mau harus saling menghangatkan. Kadang saking semangatnya menghangatkan, bisa jadi kebakaran yang berkali-kali menghadiahi komunitas pedagang dengan bangunan pasar induk baru. Tentu saja, kota kita, heboh dan biasa saja, sudah berjalan seperti itu sejak dulu. Kita semakin betah, malah terkadang jadi malas beranjak ke mana pun.
Biasa baé lah, mungkin itu terlampau sering kita dengar sebagai antisipasi terhadap gagasan-gagasan baru. Biasa baé adalah mantram sakti yang menjaga agar ketertiban umum dapat tetap terjaga. Apakah kita terbiasa dengan dinamika dan polemik? Sebenarnya sih, terbiasa. Makin terbiasa hingga dalam satu gagasan yang sama, bermunculan kubu-kubu baru karena mentoknya kemampuan berkomunikasi. Kadangkala tertolong dengan hujan yang turun reguler setelah tengah hari. Boro-boro berpolemik, keluar ke warung sebelah pun, malas. Masih untung kita pernah terpapar wabah 'indie', sehingga aliran yang itu-itu saja bisa berkembang menjadi itu-itu-itu saja. Sebenarnya tidak masalah, mau gagasan lama ataupun baru, di sini yang terpenting adalah punya teman untuk berjalan dulu aja bersama-sama. Sekali lagi, semakin banyak, semakin bagus. Kata pemilik kedai kopi langganan saya, interkoneksi itu penting.
Kembali kepada bahasan tentang simbolisme Hari Jadi Wonosobo, bukan berarti perayaan-perayaan euforistik harus melulu dilihat dari sisi sejarah dan cerita yang selalu diulang-ulang. Di sisi lain, perayaan adalah perihal pertemuan: pertemuan antara satu titik di masa lampau dengan aspek 'ini' dan 'kini', juga sebagai jeda rekonsiliatif bagi mereka yang berbeda satu sama lain. Seperti saya dan Anda yang selama hari kerja sibuk dengan keseharian masing-masing, pada akhirnya harus 'lupa diri' untuk sesaat. Yang saban hari terbiasa meminta mata dan telinga, di titik ini akan memberikan mata dan telinganya.
Akui saja, di dalam hati kecil Anda, ada benih-benih obsesi terhadap kesamaan. Anda rindu akan pola-pola. Anda menahan tawa ketika mendengar plesetan ala bapak-bapak. Sesekali waktu, Anda mengesampingkan keakuan, kemudian Anda setorkan beramai-ramai dengan teman Anda sesama BTS Army. Katakanlah saya salah, di sesi Sedap Malam ini, mungkin apa yang saya sampaikan malam ini bukanlah hal yang baik-baik, apalagi sedap. Sayangnya, Anda sudah sepakat mempertaruhkan mata-telinga Anda untuk orasi tidak karuan ini. Jadi, saya ucapkan selamat berkumpul, selamat merayakan Gigs Akhir Pekan.



Comments